Candi Penataran di terletak di lereng barat daya Gunung Kelud, tepatnya di Desa Penataran,
Kecamatan Nglegok, Blitar, Jawa Timur; pada ketinggian 450 meter di atas permukaan air laut.Di areal candi ini terdapat banyak relief yang meyimpan misteri bagi yang jeli mencermatinya.
Sangat banyak relief yang menunjukkan bangsa asing yang pernah kita kenal. Sosok-sosok
tersebut selalu digambarkan sebagai sosok yang seolah-olah takluk kepada yang berkuasa di
Candi Penataran.
Sayang sebagian relief sudah rusak, namun untungnya beberapa bagian masih dapat dikenali.
Dalam pahatan relief terkuak sejarah jika nenek moyang kita pernah melakukan infasi hingga Benua Amerika dengan mengalahkan bangsa Indian dan sempat berperang dengan prajurit Bangsa Maya. Mereka kemudian menguasai wilayah tersebut hingga diangkat sebagai penguasa. Tidak hanya itu pada salah satu relief juga digambarkan beberapa bangsa lain seperti Bangsa Han (China), Bangsa Campa, Bangsa Maya, Bangsa Yahudi dan Bangsa Mesir tunduk pada leluhur kita. Demikian seperti diungkapkan Ketua Yayasan Turangga Seta, Agung Bimo Sutejo. Ia menambahkan dalam pahatan lain terungkap jika pada waktu itu terdapat 3 species yang sudah mempunyai peradaban yakni ras manusia kera, ras raksasa dan manusia biasa. Mereka pun hidup saling berdampingan. Gambaran pada relief ini sekaligus membantah teori Darwin yang menyatakan manusia berasal dari evolusi kera. Dalam tata cara kematian manusia jaman dulu mereka yang meninggal jasadnya akan diperabukan sehingga fosilnya tidak akan ditemukan. Sedangkan ras manusia kera dan raksasa dengan cara dikubur sehingga fosil yang banyak ditemukan arkreolog tersebut adalah fosil ras manusia kera yang berbeda dengan species kita saat ini dan dimungkinkan ras manusia kera telah punah. Sementara dari penelitian yang dilakukan Yayasan Turangga Seta, juga terkuak misteri jika keberadaan Candi Penataran di Blitar yang merupakan Candi terbesar di Jawa Timur itu terkait dengan berdirinya kerajaan besar di Blitar kala itu yang justru wilayah kekuasaannya lebih besar dari Kerajaan Majapahit. Namun sayang misteri ini belum akan diungkapkan pada publik.
SUMBER: Lakubecik.org, Atlantissunda.wordpress.com
Sabtu, 29 Juni 2013
CLASSIC MATCH FINAL WORLD CUP 1950 : BRAZIL vs URUGUAY MARACANAZA
Tepat 16 Juli 1950, Stadion Maracana, membuat rekor dunia saat partai final antara tuan rumah Brazil melawan Uruguay di gelar. Jumlah penonton yang semula dibatasi 150.000 orang, meluber menjadi 172.772 orang. Mereka antusias menunggu sukses Brazil untuk pertama kalinya menjuarai Piala Dunia. Tapi, yang terjadi di lapangan sebaliknya. Brazil kalah dan stadion terbesar di dunia saat itu, dibanjiri airmata. Duka-cita nasional yang sulit terobati.
Sebelum pertandingan digelar, Brazil begitu yakin akan menjuarai turnamen kali ini. Apalagi hanya butuh hasil seri lawan Uruguay. Sebagai catatan, di Piala Dunia 1950 yang diikuti 13 tim, dibagi menjadi 4 grup. Masing-masing juara grup masuk ke pool final. Peraih nilai terbesar di grup ini akan menjadi juara. Nah, partai Brazil vs Uruguay sangat menentukan. Brazil ungul dengan meraup 4 poin, sedangkan Uruguay tepat di bawah Brazil dengan 3 poin (tiap kemenangan diberi nilai 2). Dengan hasil seri saja, Brazil sudah pasti juara. Maka, rakyat Brazil begitu yakinnya bahwa gelar juara tinggal menunggu waktu.
Bonus 10.000 pounds sudah di sediakan pemerintah. Jumlah yang cukup besar di masa itu. Pesta nasional tinggal digelar. Spanduk-spanduk terbentang di mana-mana, seolah Brazil memang bakal menjadi juara." Mari satukan keyakinan dalam hati, keyakinan bahwa Brazil akan menjadi juara." Demikian bunyi spanduk-spanduk itu.
Tak ada yang ragu Brazil bakal juara. Sesaat sebelum pertandingan, Wali Kota Rio de Janeiro, Angelo Mendes mengeluarkan pidato singkat yang sangat terkenal. Sebab, pidato itu menunjukkan betapa yakinnya orang Brazil bahwa timnasnya akan juara dunia." Kalian, para pemain. Kurang dari beberapa jam lagi, kalian akan menjadi juara di hadapan jutaan rakyat Brazil. Kalian tidak memiliki saingan untuk meraihnya. Kalian, kepada siapa saya ucapkan salut sebagai seorang juara," kata Mendes.
Kata-kata itu mengiringi langkah pasukan Brazil ke lapangan begitu gagahnya. Para pemain Brazil seperti Barbosa, Augusto, Juvenal, Bauer, Danilo Alvim, Bigode, Friaca, Zizinho, Ademir, Menezes, Jair da Rosa Pinto, dan Chico seolah tinggal meraih trofi Jules Rimet. Sebaliknya para pemain Uruguay seperti Maspoli, M. Gonzales, Tejera, Gambetta, Varela, Andrade, Ghiggia, Perez, Miguez, Schiaffino, dan Moran seolah hanya akan menjadi pelengkap penderita.
Namun fakta di lapangan ternyata bertolak belakang. Uruguay mampu membungkam ratusan ribu pendukung tuan rumah. Bahkan, tim asuhan Juan Lopez itu memaksa rakyat Brazil menangis.
>>BLUNDER FLAVIO COSTA
Pertandingan kedua tim saat itu berlangsung sangat ketat. Brazil terus menekan lawannya tanpa henti. Tapi, Uruguay menerapkan sepak bola negatif. Mereka bertahan habis-habisan dan hanya sesekali melancarkan serangan balik. Strategi itu rupanya membuat Brazil frustasi. Memasuki babak ke dua, Tim Samba mencoba menekan lebih gencar. Semua lini dimanfaatkan demi mengejar kemenangan. Strategi yang sangat berani, mengingat Brazil hanya butuh hasil seri. Toh strategi itu ada hasilnya juga. Baru memasuki menit ke-2 babak kedua, Friaca langsung mencetak gol, memanfaatkan umpan cerdik Ademir.
Harapan juara pun semakin membesar. Bahkan, seolah-olah Brazil sudah juara. Ribuan pendukung di Stadion Maracana terus bernyanyi dan menari, merayakan gelar yang tinggal menunggu penyerahannya. Unggul 1-0, pelatih Flavio Costa membuat keputusan rasional. Dia meminta Jair untuk turun membantu pertahanan. Harapannya, Brazil bisa mempertahankan keunggulannya. Ternyata, keputusan ini justru menjadi blunder sang pelatih. Sebab, lini tengah Brazil menjadi kehilangan ide dan sulit mengembangkan permainan.
Dalam keadaan seperti itu, Uruguay mampu menguasai lini tengah sekaligus jadi lebih sering menekan tuan rumah. Pemain sayap kiri Brazil, Bigode, jadi lebih banyak memberi ruang kepada Ghiggia. Padahal, pemain Uruguay yang satu ini sangat berbahaya dan dinamis. Kesalahan ini harus dibayar mahal oleh Brazil. Hanya dalam sembilan menit, Uruguay akhirnya mampu menyamakan keadaan lewat gol Schiaffino. Dia dengan baik memanfaatkan assist Ghiggia.
Dengan kedudukan imbang 1-1, Brazil masih aman. Tapi, mempertahankan gaya permainan bertahan merupakan kesalahan besar. Keadaan ini tampaknya tak segera disadari Flavio Costa. Sehingga Uruguay pun bisa terus menekan mereka. Kapten Uruguay yang sudah 34 tahun, Obduilo Varela bermain luar biasa. Dia tanpa lelah mengkreasi permainan, yang membuat Brazil terus tertekan. Akhirnya, petaka yang membuyarkan impian tuan rumah datang juga. Ghiggia yang sejak awal pertandingan kurang dikawal ketat, mencetak gol kemenangan Uruguay di menit ke-79.
Stadion Maracana yang tadinya gegap gempita seperti kandang singa yang tanpa henti mengaum, tiba-tiba terdiam. Sunyi sebentar. Dunia serasa kiamat bagi Brazil. Sebaliknya, Uruguay berteriak gembira.
Bahkan komentar radio Globo, Luiz Mendes, seperti tak percaya. Dengan perasaan pedih dia mengabarkan gol keunggulan Uruguay," Ghiggia membawa bola dari tengah lapangan. Dia berlari dan menendang bola . . . Gol untuk Uruguay! Gol untuk Uruguay? Ya, itu gol untuk Uruguay." Enam kali Mendez mengucapkan pertanyaan itu dan dijawabnya sendiri, seolah dia tak percaya.
Sebelas menit yang tersisa tak cukup buat Brazil untuk mengejar ketertinggalannya. Uruguay menang 2-1 dan merebut gelar juara yang tadinya sudah diklaim bakal menjadi milik Brazil. Ini sukses kedua Uruguay, sekaligus pukulan dahsyat yang membuat stadion Maracana merana dalam tangisan, juga membuat kesedihan nasional di Brazil.
FAKTA PERTANDINGAN
Ajang : Final Piala Dunia 1950
Skor : Brazil 1-2 Uruguay
Tanggal : 16 Juli 1950
Tempat : Stadion Maracana, Rio de Janeiro, Brazil.
Wasit : George Reader (Inggris)
Skuad Brazil : Barbosa, Augusto, Juvenal, Bauer, Danilo, Bigode, Friaca, Zizinho, Ademir, Jair, Chico.
Pelatih : Flavio Costa.
Skuad Uruguay : Maspoli, M. Gonzales, Tejera, Gambetta, Varela, Andrade, Ghiggia, Perez, Miguez, Schiaffino, Moran.
Pelatih : Juan Lopez.
Sumber : Football Sharing
Sebelum pertandingan digelar, Brazil begitu yakin akan menjuarai turnamen kali ini. Apalagi hanya butuh hasil seri lawan Uruguay. Sebagai catatan, di Piala Dunia 1950 yang diikuti 13 tim, dibagi menjadi 4 grup. Masing-masing juara grup masuk ke pool final. Peraih nilai terbesar di grup ini akan menjadi juara. Nah, partai Brazil vs Uruguay sangat menentukan. Brazil ungul dengan meraup 4 poin, sedangkan Uruguay tepat di bawah Brazil dengan 3 poin (tiap kemenangan diberi nilai 2). Dengan hasil seri saja, Brazil sudah pasti juara. Maka, rakyat Brazil begitu yakinnya bahwa gelar juara tinggal menunggu waktu.
Bonus 10.000 pounds sudah di sediakan pemerintah. Jumlah yang cukup besar di masa itu. Pesta nasional tinggal digelar. Spanduk-spanduk terbentang di mana-mana, seolah Brazil memang bakal menjadi juara." Mari satukan keyakinan dalam hati, keyakinan bahwa Brazil akan menjadi juara." Demikian bunyi spanduk-spanduk itu.
Tak ada yang ragu Brazil bakal juara. Sesaat sebelum pertandingan, Wali Kota Rio de Janeiro, Angelo Mendes mengeluarkan pidato singkat yang sangat terkenal. Sebab, pidato itu menunjukkan betapa yakinnya orang Brazil bahwa timnasnya akan juara dunia." Kalian, para pemain. Kurang dari beberapa jam lagi, kalian akan menjadi juara di hadapan jutaan rakyat Brazil. Kalian tidak memiliki saingan untuk meraihnya. Kalian, kepada siapa saya ucapkan salut sebagai seorang juara," kata Mendes.
Kata-kata itu mengiringi langkah pasukan Brazil ke lapangan begitu gagahnya. Para pemain Brazil seperti Barbosa, Augusto, Juvenal, Bauer, Danilo Alvim, Bigode, Friaca, Zizinho, Ademir, Menezes, Jair da Rosa Pinto, dan Chico seolah tinggal meraih trofi Jules Rimet. Sebaliknya para pemain Uruguay seperti Maspoli, M. Gonzales, Tejera, Gambetta, Varela, Andrade, Ghiggia, Perez, Miguez, Schiaffino, dan Moran seolah hanya akan menjadi pelengkap penderita.
Namun fakta di lapangan ternyata bertolak belakang. Uruguay mampu membungkam ratusan ribu pendukung tuan rumah. Bahkan, tim asuhan Juan Lopez itu memaksa rakyat Brazil menangis.
>>BLUNDER FLAVIO COSTA
Pertandingan kedua tim saat itu berlangsung sangat ketat. Brazil terus menekan lawannya tanpa henti. Tapi, Uruguay menerapkan sepak bola negatif. Mereka bertahan habis-habisan dan hanya sesekali melancarkan serangan balik. Strategi itu rupanya membuat Brazil frustasi. Memasuki babak ke dua, Tim Samba mencoba menekan lebih gencar. Semua lini dimanfaatkan demi mengejar kemenangan. Strategi yang sangat berani, mengingat Brazil hanya butuh hasil seri. Toh strategi itu ada hasilnya juga. Baru memasuki menit ke-2 babak kedua, Friaca langsung mencetak gol, memanfaatkan umpan cerdik Ademir.
Harapan juara pun semakin membesar. Bahkan, seolah-olah Brazil sudah juara. Ribuan pendukung di Stadion Maracana terus bernyanyi dan menari, merayakan gelar yang tinggal menunggu penyerahannya. Unggul 1-0, pelatih Flavio Costa membuat keputusan rasional. Dia meminta Jair untuk turun membantu pertahanan. Harapannya, Brazil bisa mempertahankan keunggulannya. Ternyata, keputusan ini justru menjadi blunder sang pelatih. Sebab, lini tengah Brazil menjadi kehilangan ide dan sulit mengembangkan permainan.
Dalam keadaan seperti itu, Uruguay mampu menguasai lini tengah sekaligus jadi lebih sering menekan tuan rumah. Pemain sayap kiri Brazil, Bigode, jadi lebih banyak memberi ruang kepada Ghiggia. Padahal, pemain Uruguay yang satu ini sangat berbahaya dan dinamis. Kesalahan ini harus dibayar mahal oleh Brazil. Hanya dalam sembilan menit, Uruguay akhirnya mampu menyamakan keadaan lewat gol Schiaffino. Dia dengan baik memanfaatkan assist Ghiggia.
Dengan kedudukan imbang 1-1, Brazil masih aman. Tapi, mempertahankan gaya permainan bertahan merupakan kesalahan besar. Keadaan ini tampaknya tak segera disadari Flavio Costa. Sehingga Uruguay pun bisa terus menekan mereka. Kapten Uruguay yang sudah 34 tahun, Obduilo Varela bermain luar biasa. Dia tanpa lelah mengkreasi permainan, yang membuat Brazil terus tertekan. Akhirnya, petaka yang membuyarkan impian tuan rumah datang juga. Ghiggia yang sejak awal pertandingan kurang dikawal ketat, mencetak gol kemenangan Uruguay di menit ke-79.
Stadion Maracana yang tadinya gegap gempita seperti kandang singa yang tanpa henti mengaum, tiba-tiba terdiam. Sunyi sebentar. Dunia serasa kiamat bagi Brazil. Sebaliknya, Uruguay berteriak gembira.
Bahkan komentar radio Globo, Luiz Mendes, seperti tak percaya. Dengan perasaan pedih dia mengabarkan gol keunggulan Uruguay," Ghiggia membawa bola dari tengah lapangan. Dia berlari dan menendang bola . . . Gol untuk Uruguay! Gol untuk Uruguay? Ya, itu gol untuk Uruguay." Enam kali Mendez mengucapkan pertanyaan itu dan dijawabnya sendiri, seolah dia tak percaya.
Sebelas menit yang tersisa tak cukup buat Brazil untuk mengejar ketertinggalannya. Uruguay menang 2-1 dan merebut gelar juara yang tadinya sudah diklaim bakal menjadi milik Brazil. Ini sukses kedua Uruguay, sekaligus pukulan dahsyat yang membuat stadion Maracana merana dalam tangisan, juga membuat kesedihan nasional di Brazil.
FAKTA PERTANDINGAN
Ajang : Final Piala Dunia 1950
Skor : Brazil 1-2 Uruguay
Tanggal : 16 Juli 1950
Tempat : Stadion Maracana, Rio de Janeiro, Brazil.
Wasit : George Reader (Inggris)
Skuad Brazil : Barbosa, Augusto, Juvenal, Bauer, Danilo, Bigode, Friaca, Zizinho, Ademir, Jair, Chico.
Pelatih : Flavio Costa.
Skuad Uruguay : Maspoli, M. Gonzales, Tejera, Gambetta, Varela, Andrade, Ghiggia, Perez, Miguez, Schiaffino, Moran.
Pelatih : Juan Lopez.
Sumber : Football Sharing
Jumat, 28 Juni 2013
Weizmann, Aseton (dimetil keton), dan Negara Israel
CHAIM Azriel Weizmann lahir pada tahun 1874. Dia merupakan seorang pakar kimia yang menjadi Presiden Organisasi Zionis Dunia dan Presiden Israel pertama yang terpilih pada pertengahan Mei 1948. Orang ini juga mendirikan institut riset Israel yang akhirnya menjadi Lembaga Ilmu Pengetahuan Weizmann.
Setelah mempelajari biokimia di Swiss dan Jerman, Weizmann hijrah ke Inggris pada tahun 1905 dan dipercaya sebagai Juru Bicara Zionis Eropa. Dalam perang dunia pertama, Jerman selangkah lebih maju dalam teknologi persenjataan ketimbang pihak Sekutu. Namun berkat penemuan Weizmann, yang berhasil mensintesakan aseton melalui proses fermentasi, yang diperlukan dalam menghasilkan cordite, bahan pembakar yang berguna bagi katalisator amunisi, Inggris berhasil mensejajarkan diri dengan Jerman.
Banyak kalangan menyatakan, tanpa penemuan Weizmann, Inggris akan menderita kekalahan dalam perang dunia pertama. Sebab itulah, sosok Weizmann sangat dihormati kalangan elit Inggris dan menjadi warga kehormatan. Sejak itu lobi Weizmann menjadi sangat kuat di Inggris.
>>Permintaan Weizmann
Usai perang dunia pertama, PM Inggris David Lloyd-George secara khusus mengundang Weizmann. George memberi Weizmann sejumlah uang dan berjanji bahwa Inggris akan memberikan apa saja permintaan Weizmann.
Pucuk dicinta ulam tiba. Sebagai salah seorang tokoh gerakan Zionis tentu saja ini kesempatan terbaik bagi dirinya untuk meminta tanah air bagi bangsa Yahudi yang saat itu masih tersebar di banyak negara dan benua.
Weizmann menjawab, Tuan, hanya satu yang saya inginkan Hal itu adalah rumah bagi saudara-saudara saya. Lloyd-George mengerti. Permintaan khusus Weizmann itu menjadi perhatian utama Kabinet Inggris. Menteri Luar Negeri Balfour setengah tidak percaya dengan apa yang diminta Weizmann.
Dengan tertegun, Balfour bertanya kembali kepada Weizmann, seolah ingin mendengar lewat telinganya sendiri, Tuan Weizmann, mengapa harus Palestina?
Tuan Balfour, jika pun saya menginginkan Paris atau London apakah akan Anda berikan? Weizmann balik bertanya.
Balfour mengangguk, Mengapa tidak?
Weizmann tersenyum. Saya percaya Tuan Balfour. Namun sayang, kami telah memiliki Yerusalem, jauh ketika London masih berupa rawa-rawa.
Balfour terdiam. Dia sangat paham bahwa permintaan Weizmann tersebut sangat dilematis. Di satu pihak Inggris sangat berterima kasih kepada Weizmann dan juga tokoh-tokoh Yahudi Internasional, namun jika permintaan itu dituruti maka Dunia Arab akan memusuhi Inggris. Sebab itulah, draft Deklarasi Balfour yang keluar pada tanggal 2 November 1917 ditulis dengan sangat hati-hati dan tidak secara eksplisit mencantumkan kata tanah air. Namun demikian, pihak Zionis tetap saja menerjemahkan deklarasi ini sebagai surat sakti untuk menjajah Tanah Palestina yang saat itu memang dikuasai Inggris.
Deklarasi Balfour dianggap sebagai mandat Inggris kepada gerakan Zionis Internasional untuk mendirikan sebuah negara Israel di Palestina.Pada 1918, Weizmann diangkat sebagai ketua Komisi Zionis dan dikirim ke Palestina oleh pemerintah Inggris untuk menganjurkan pembangunan masa depan di negeri itu. Di sana, ia meletakkan batu pertama Universitas Ibrani.
Pada tahun yang sama Weizmann bertemu di Aqaba dengan Emir Feisal, putra Syarif Husain dari Makkah, orang Arab yang telah bersekongkol dengan Perancis dan Inggris dalam memusuhi khilafah Turki Utsmani untuk merundingkan kemungkinan jangkauan kemungkinan pada berdirinya negara Arab dan Yahudi yang merdeka.
Segera setelah itu, Weizmann memimpin delegasi Zionis pada Konferensi Perdamaian di Versailles. Pada tahun 1920, dia menjadi pimpinan Organisasi Zionis Dunia (WZO) dan mengepalai Agen Yahudi yang berdiri pada tahun 1929.Di tahun 1930-an, Weizmann meletakkan dasar Institut Riset Daniel di Rehovot, yang kemudian menjadi Institut Weizmann, tenaga penggerak di belakang riset ilmiah Israel.
Pada tahun 1937, ia membangun rumahnya di Rehovot. Chaim Weizmann kembali menjabat sebagai pemimpin WZO pada tahun 1935-1946. Selama tahun itu pada zaman PD II, ia menyumbang banyak usaha dalam pendirian angkatan bersenjata Israel.
Setelah berakhirnya PD II dan konspirasi Barat yang kemudian membentuk negara Israel, pada 29 November 1947, Weizmann diangkat sebagai presiden pertama Israel, hingga meninggal dunia pada tahun 1952.
Sumber : [islampos]
Setelah mempelajari biokimia di Swiss dan Jerman, Weizmann hijrah ke Inggris pada tahun 1905 dan dipercaya sebagai Juru Bicara Zionis Eropa. Dalam perang dunia pertama, Jerman selangkah lebih maju dalam teknologi persenjataan ketimbang pihak Sekutu. Namun berkat penemuan Weizmann, yang berhasil mensintesakan aseton melalui proses fermentasi, yang diperlukan dalam menghasilkan cordite, bahan pembakar yang berguna bagi katalisator amunisi, Inggris berhasil mensejajarkan diri dengan Jerman.
Banyak kalangan menyatakan, tanpa penemuan Weizmann, Inggris akan menderita kekalahan dalam perang dunia pertama. Sebab itulah, sosok Weizmann sangat dihormati kalangan elit Inggris dan menjadi warga kehormatan. Sejak itu lobi Weizmann menjadi sangat kuat di Inggris.
>>Permintaan Weizmann
Usai perang dunia pertama, PM Inggris David Lloyd-George secara khusus mengundang Weizmann. George memberi Weizmann sejumlah uang dan berjanji bahwa Inggris akan memberikan apa saja permintaan Weizmann.
Pucuk dicinta ulam tiba. Sebagai salah seorang tokoh gerakan Zionis tentu saja ini kesempatan terbaik bagi dirinya untuk meminta tanah air bagi bangsa Yahudi yang saat itu masih tersebar di banyak negara dan benua.
Weizmann menjawab, Tuan, hanya satu yang saya inginkan Hal itu adalah rumah bagi saudara-saudara saya. Lloyd-George mengerti. Permintaan khusus Weizmann itu menjadi perhatian utama Kabinet Inggris. Menteri Luar Negeri Balfour setengah tidak percaya dengan apa yang diminta Weizmann.
Dengan tertegun, Balfour bertanya kembali kepada Weizmann, seolah ingin mendengar lewat telinganya sendiri, Tuan Weizmann, mengapa harus Palestina?
Tuan Balfour, jika pun saya menginginkan Paris atau London apakah akan Anda berikan? Weizmann balik bertanya.
Balfour mengangguk, Mengapa tidak?
Weizmann tersenyum. Saya percaya Tuan Balfour. Namun sayang, kami telah memiliki Yerusalem, jauh ketika London masih berupa rawa-rawa.
Balfour terdiam. Dia sangat paham bahwa permintaan Weizmann tersebut sangat dilematis. Di satu pihak Inggris sangat berterima kasih kepada Weizmann dan juga tokoh-tokoh Yahudi Internasional, namun jika permintaan itu dituruti maka Dunia Arab akan memusuhi Inggris. Sebab itulah, draft Deklarasi Balfour yang keluar pada tanggal 2 November 1917 ditulis dengan sangat hati-hati dan tidak secara eksplisit mencantumkan kata tanah air. Namun demikian, pihak Zionis tetap saja menerjemahkan deklarasi ini sebagai surat sakti untuk menjajah Tanah Palestina yang saat itu memang dikuasai Inggris.
Deklarasi Balfour dianggap sebagai mandat Inggris kepada gerakan Zionis Internasional untuk mendirikan sebuah negara Israel di Palestina.Pada 1918, Weizmann diangkat sebagai ketua Komisi Zionis dan dikirim ke Palestina oleh pemerintah Inggris untuk menganjurkan pembangunan masa depan di negeri itu. Di sana, ia meletakkan batu pertama Universitas Ibrani.
Pada tahun yang sama Weizmann bertemu di Aqaba dengan Emir Feisal, putra Syarif Husain dari Makkah, orang Arab yang telah bersekongkol dengan Perancis dan Inggris dalam memusuhi khilafah Turki Utsmani untuk merundingkan kemungkinan jangkauan kemungkinan pada berdirinya negara Arab dan Yahudi yang merdeka.
Segera setelah itu, Weizmann memimpin delegasi Zionis pada Konferensi Perdamaian di Versailles. Pada tahun 1920, dia menjadi pimpinan Organisasi Zionis Dunia (WZO) dan mengepalai Agen Yahudi yang berdiri pada tahun 1929.Di tahun 1930-an, Weizmann meletakkan dasar Institut Riset Daniel di Rehovot, yang kemudian menjadi Institut Weizmann, tenaga penggerak di belakang riset ilmiah Israel.
Pada tahun 1937, ia membangun rumahnya di Rehovot. Chaim Weizmann kembali menjabat sebagai pemimpin WZO pada tahun 1935-1946. Selama tahun itu pada zaman PD II, ia menyumbang banyak usaha dalam pendirian angkatan bersenjata Israel.
Setelah berakhirnya PD II dan konspirasi Barat yang kemudian membentuk negara Israel, pada 29 November 1947, Weizmann diangkat sebagai presiden pertama Israel, hingga meninggal dunia pada tahun 1952.
Sumber : [islampos]
Langganan:
Postingan (Atom)

